Documentasi Kegiatan KAMMI UMA

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengambil Hikmah dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj

         
         

Beberapa hari yang lalu umat muslim di seluruh bagian bumi khusus nya Indonesia merayakan hari besar umat islam Isra’ dan Mi’raj, namun apakah hasil yang didapat dari perayaan itu ? atau apa hanya sekedar merayakan & mengingat nya saja kalau hari itu adalah hari besar umat islam ? pertanyaan seperti ini kerap muncul di pikiran saya ketika hari – hari besar umat islam itu tiba. Tapi inilah kenyataannya, inilah faktanya, inilah yang terjadi saat ini di kalangan umat islam, peringatan-peringatan hari besar umat islam saat ini hanya di jadikan ajang ceremonial belaka dan hanya sekedar untuk mengingat bahwa hari ini adalah hari besar islam itu pun ingat nya karena di kalender adalah hari merah, kalau bukan karena hari merah. Wallahu ‘alam
Isra’ dan Mi’raj merupakan perjalanan agung Nabi Muhammad Saw yang menunjukkan betapa maha kuasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Karena telah menjalankan seorang hamba yang mulia dengan tujuan yang mulia. Dari perjalanan yang mulia itu dapat banyak kita ambil sebuah hikmah yang dilihat dari pengertian Isra’ dan Mi’raj yaitu hablum minallah dan hablum minnanas.

Isra’

Isra` secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra` adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Aqsha (Palestina), berdasarkan firman Allah :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى  
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha “ (Al Isra’:1)

Isra’ merupakan perjalanan horizontal yang di lakukan nabi Muhammad saw dari masjidil haram ke masjidil Aqsha yang bermakna hablum minnanas. Islam merupakan agama yang bersifat ‘Alamiyah (universal) yang rahmatan lil alamin, di dalam islam bukan hanya mengajarakan pemeluknya untuk menjalain hubungan antar sesama umat islam tetapi di tuntut untuk tetap menjalin hubungan dengan orang-orang di luar dari agama islam (ukhuwah Insaniyah).
Inilah hikmah kenapa nabi Muhammad saw tidak langsung diperjalankan Allah ke sidratul muntaha melainkan ke masjidil Aqsha selain untuk menampakkan kebenaran akan terjadinya peristiwa isra’ dan mi’raj dan agar kita sebagai umat islam memiliki rasa persaudaraan yang kuat terutama antar sesama umat islam sendiri dan mengajarkan kita untuk tetap berhubungan antar sesama manusia walaupun ia berbeda aqidah dengan kita.
Namun saat ini banyak diantara umat manusia itu tidak lagi memiliki rasa persaudaraan antar sesama baik dari kalangan ummat islam sendiri maupun dari luar islam, terutama dari Negara yang terpaksa kita cintai ini, yang saat ini terbagi menjadi beberapa golongan terutama pada saat era perpolitikan beberapa bulan yang lalu saat itu umat manusia terpecah belah bahkan yang lebih memprihatinkan di kalangan ummat islam sendiri sudah terpecah belah menjadi beberapa golongan dan bukan hanya itu yang lebih miris nya lagi setiap golongan hanya mementingkan golongan nya sendiri, inilah yang membuat ummat islam terpecah terlalu fanatik dengan kelompoknya. Inilah faktor utama kenapa ummat islam sangat sulit untuk bersatu untuk menyatukan suara dan meluruskan barisan. Untuk itu sangat penting bagi setiap individu memahami hikmah dari perjalanan Isra’ Nabi Muhammad saw. Selanjutnya,

Mi’raj

Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas langit, berdasarkan firman Allah dalam surat An Najm ayat 1-18.
Mi’raj merupakan perjalanan vertical nabi Muhammad saw dari masjidil Aqsha ke sidratul muntaha yang bermakna hablum minallah dari perjalanan inilah awal mula di wajibkannya shalat 5 waktu yang menjadi inti dari perjalanan isra’ mi’raj nabi Muhammad saw. Inilah yang membuat shalat memiliki keistimewaan tersendiri dari ibadah – ibadah yang lain. percakapan Allah dan nabi Muhammad pun di abadikan di dalam shalat yang terdapat pada tahyat akhir.
‘ Rasulullah melanjutkan perjalanan menghadap Allah, ketika itu dengan penuh hormat rasul berkata , “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah ( Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja ) ”
‘ Allah SWT pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh
( Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, Rahmat dan berkahnya )”

‘ Rasulullah membaca lagi, “Assalamu’alaina wa ‘ala ibadillahi shalihin ( Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh )”, dst.

Betapa cinta nya rasulullah kepada kita ummat nya, pada saat do’anya langsung kepada Allah swt nabi Muhammad tidak hanya mendoakan untuk dirinya sendiri tetapi ia masih mendoakan ummat nya.  Untuk itu kita sebagai ummat nya sudah sepatutnya mengikuti apa yang di kerjakannya terutama dalam ibadah shalat, namun saat ini masih ada ummat nya yang mengabaikan perintah shalat ini, baik dari kalangan pemuda, mahasiswa, bahkan sampai orang tua masih ada juga yang meninggalkan shalat, bukannya mereka tidak tahu tentang wajib nya perintah shalat atau bukan karena mereka tidak mengerti akan tata cara pelaksanaan shalat itu. Tetapi karena satu sifat mereka yang terus bersemayam pada dirinya yaitu sifat malas, sifat inilah yang menahan mereka untuk melakukan shalat.

Untuk inilah kita sebagai mahasiswa yang intelektual bertugas untuk berdakwah kepada orang-orang yang masih ada di hatinya untuk meninggalkan shalat, inilah tugas kita sebagai mahasiswa untuk saling mengingatkan dalam kebaikan terutama dalam shalat, sehingga kita pun terlepas dari tanggung jawab kita kepada Allah untuk saling menasihati dan mengajak kembali menuju jalan Allah (Qs. Al A’raf : 164 ).

       Dalam islam kita bukan hanya untuk di tuntut untuk Beribadah kepada Allah tetapi juga untuk menjalin hubungan kepada sesama manusia (ukhuwah insaniyah) , inilah penting nya untuk kita memahami dari perjalanan isra’ dan mi’raj nya nabi Muhammad saw, agar kita dapat ber tawazun (seimbang) dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari.
Wallahu‘alam bishawab

Shalat merupakan ibadah yang pertama kali di hisab , jika shalat nya di terima , maka di terimalah seluruh amal ibadah nya. Shalat merupakan tiang agama barang siapa yang tidak mengerjakan shalat maka iatelah menghancurkan tiang agamanya, Shalat merupakan pembeda antara ummat islam dan non islam.


                                                                                                                                                                                                         
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Mengambil Hikmah dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top